Mengenal Prosedur Operasi Otak Kraniotomi

Operasi Otak IMTB

Otak adalah salah satu organ tubuh paling penting bagi manusia. Apabila terjadi masalah yang cukup berat pada otak, maka pasien perlu menjalani operasi otak, seperti operasi otak kraniotomi.

Tindakan kraniotomi merupakan salah satu pilihan prosedur yang dapat dilakukan oleh pasien yang mengalami gangguan pada organ otak, umumnya menjalani setelah Pemeriksaan Electroencephalography.

Kraniotomi umumnya ditujukan untuk menangani gangguan pada otak seperti infeksi, pendarahan, tumor otak, dan lainnya.

Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai prosedur ini, pembahasan lengkap seperti di bawah dapat membantu Anda.

Apa itu Operasi Otak Kraniotomi?

Operasi otak kraniotomi adalah tindakan pembedahan pada otak yang dilakukan dengan membuat lubang atau membuka tengkorak agar dokter ahli dapat menjangkau bagian otak pasien yang bermasalah.

Setelah tengkorak dibuka, dokter akan menggunakan peralatan bedah, seperti kamera kecil untuk melihat kondisi di dalam, mikroskop bedah, dan endoskop.

Pembedahan tersebut bertujuan memperbaiki dan mengetahui kerusakan yang ada di otak dengan cara membuka tengkorak.

Secara umum, tindakan operasi otak ini dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf dan di fasilitas neuro center.

Berapa Lama Proses Operasi Kepala Kraniotomi?

Durasi waktu yang dibutuhkan dalam operasi otak kraniotomi bisa mencapai 5-7 jam. Meski demikian, lamanya waktu operasi ini ditentukan juga oleh kondisi pasien masing-masing.

Persiapan Operasi Kraniotomi

Dokter akan mengajukan pertanyaan ke pasien terkait riwayat medis, melakukan pemeriksaan fisik, dan menganjurkan pemeriksaan penunjang.

Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan tiap pasien bisa berbeda-beda. Namun secara umum pemeriksaan yang mungkin diperlukan adalah:

  • Tes darah
  • Pemeriksaan fisik
  • Pungsi lumbal (pemeriksaan cairan tulang belakang dan otak di laboratorium)
  • Electroencephalogram (EEG)
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI)
  • Computed Tomography Scan (CT Scan)

Dokter juga akan memberikan obat untuk menstabilkan kondisi tubuh pasien sebelum operasi dan pasien wajib berpuasa setidaknya 8 jam sebelum operasi.

Untuk memudahkan operasi, rambut pasien juga perlu dipotong sebagian atau seluruhnya.

Prosedur Operasi Otak Kraniotomi

Prosedur Operasi Otak Kraniotomi di Ruang Operasi

Setelah tahap persiapan selesai dilakukan, selanjutnya pasien akan menjalani prosedur operasi.

Berikut adalah prosedur yang akan dilakukan pada pasien saat menjalani operasi kraniotomi:

  1. Bius akan diberikan kepada pasien oleh dokter anestesi dan dokter saraf sebelum melakukan proses pembedahan. Meskipun demikian, dalam beberapa kasus, kraniotomi juga bisa dilakukan saat kondisi pasien tersadar dan tidak merasakan nyeri berkat pemberian obat bius khusus.
  2. Cairan antiseptik akan dioleskan di kulit kepala untuk mencegah terjadinya infeksi.
  3. Dokter akan membuat sayatan di kulit kepala, dan membuat lubang pada tengkorak dengan alat bedah perforator dan craniotome..
  4. Setelah tengkorak terbuka, dokter akan memperbaiki atau mengangkat bagian otak yang menjadi sumber masalah.
  5. Jika tindakan operasi sudah selesai, bagian tulang dan kulit kepala pasien akan direkatkan kembali menggunakan jahitan, kawat, atau staples bedah.
  6. Bekas sayatan akan ditutup menggunakan perban steril.

Perawatan Pasca Operasi 

Setelah operasi, dokter akan melakukan pemantauan kondisi pasien dan memberikan obat-obatan untuk mencegah komplikasi.

Untuk mempermudah pemantauan, pasien akan ditempatkan di ruang ICU.

Kemudian, pasien akan menjalani pemeriksaan sistem saraf dan otak pasien untuk memastikan bahwa organ tersebut dapat berfungsi dengan baik pasca operasi.

Jika kondisi pasien sudah stabil dan sadar, pasien dianjurkan untuk menjalani fisioterapi guna mendukung proses pemulihan tubuh.

Setelah kembali ke rumah, pasien disarankan untuk :

  • Beristirahat yang cukup
  • Konsumsi makanan yang sehat dan bergizi
  • Menghindari pantangan dokter
  • Tidak merokok dan menghindari minuman beralkohol
  • Rutin memeriksakan diri
  • Merawat bekas luka operasi.

Baca Juga: Robotic Spine Surgery, Teknologi Robotik untuk Operasi Tulang Belakang

Jenis-jenis Kraniotomi

Hingga saat ini, terdapat beberapa jenis operasi kraniotomi yang dibagi berdasarkan dari lokasi, prosedur, serta peralatan medis yang digunakan.

Berikut adalah jenis-jenis operasi kraniotomi:

1. Bifrontal Craniotomy

Prosedur ini meliputi teknik dimana dokter bedah akan mengangkat tulang tengkorak yang membentuk lekukan dahi.

Bifrontal Craniotomy ditujukan untuk mengangkat tumor parah pada otak bagian depan.

2. Keyhole Craniotomy

Sesuai namanya, operasi otak kraniotomi ini dilakukan dengan membuat lubang kecil di belakang telinga.

Jenis kraniotomi ini ditujukan untuk mengatasi tumor berukuran kecil atau kerusakan otak tingkat ringan. 

3. Stereotactic Craniotomy

Stereotactic Craniotomy adalah operasi otak yang dilakukan tanpa membuka tulang kepala dengan menempatkan elektrode.

Operasi otak ini sering digunakan untuk menemukan bagian luka pada otak dan untuk memberikan terapi radiasi.

4. Endoscopic Craniotomy

Dalam operasi Endoscopic Craniotomy, dokter bedah akan membuat lubang pada tengkorak yang dapat dimasuki dengan alat endoskop untuk melakukan diagnosis atau menangani gangguan otak.

5. Supra-orbital Craniotomy

Supra-orbital adalah area di atas alis. Dengan demikian, operasi otak Supra-orbital Craniotomy dilakukan dengan mengangkat sedikit tulang tengkorak di area atas alis.

Prosedur operasi ini dilakukan untuk mengatasi tumor pada bagian depan otak.

6. Pterional Craniotomy

Jenis operasi otak Pterional Craniotomy dilakukan dengan mengangkat pterion (bagian tengkorak yang terletak dekat pelipis) dari belakang garis rambut sisi kepala pasien..

7. Orbitozygomatic Craniotomy

Cranio-orbito-zygomatic (COZ) Craniotomy adalah perpanjangan dari jenis Pterional Craniotomy yang melibatkan tambahan osteotomi orbitozygomatic (OZ).

Ketika menggunakan prosedur ini, dokter melakukan pembedahan dengan cara membuat sayatan pada belakang garis rambut untuk mengangkat orbitozygomatic, yakni bagian tulang yang membentuk pipi dan soket mata.

8. Translabyrinthine Craniotomy

Ketika menggunakan operasi otak Translabyrinthine Craniotomy, ahli bedah akan membuat sayatan di belakang telinga dan bagian dari tulang mastoid dan kanal setengah lingkaran.

Pengangkatan tulang mastoid dan kanal semisirkularis dilakukan untuk mengatasi neuroma akustik, yaitu tumor jinak yang mempengaruhi saraf penghubung telinga dan otak.

Tumor ini terbentuk pada saraf yang menghubungkan telinga bagian dalam dan otak. 

9. Posterior Fossa Craniotomy

Fossa posterior merupakan bagian bawah tengkorak yang berdekatan batang otak dan otak kecil. Bagian ini mengontrol keseimbangan dan koordinasi tubuh.

Umumnya operasi otak Posterior Fossa Craniotomy dilakukan untuk mengatasi tumor bagian tersebut dengan mengangkat tulang fosa posterior pada bagian dasar tengkorak.

Kondisi yang Memerlukan Tindakan Kraniotomi

Persiapan Operasi Otak Kraniotomi

Terdapat beberapa kondisi yang membuat dokter menganjurkan pasien untuk segera menjalani tindakan kraniotomi, sebagai berikut:

1. Aneurisma Otak

Kondisi aneurisma otak merupakan masalah yang terjadi karena melemahnya dinding pembuluh darah di otak. Akibatnya, muncul tonjolan atau gelembung berisi darah di otak.

Kraniotomi perlu dilakukan untuk mencegah pecahnya pembuluh darah yang terdapat di dalam otak tersebut.

2. Perdarahan Subdural

Operasi otak kraniotomi juga dapat menangani perdarahan subdural yang terjadi karena adanya darah yang menumpuk di antara otak dan tengkorak.

Kondisi ini umumnya diakibatkan oleh cedera kepala yang berat, dan seringkali disertai dengan perdarahan pada jaringan otak.

Operasi harus dilakukan untuk menghentikan pendarahan. Dengan begitu, pendarahan akan bisa dihentikan dan bisa membuat pasien cepat pulih.

3. Abses Otak

Dalam penanganan abses otak, penumpukan nanah di dalam otak akibat infeksi ini juga dapat ditangani dengan operasi kraniotomi.

Infeksi ini muncul karena adanya patogen seperti jamur atau bakteri yang berhasil masuk ke dalam otak.

4. Hidrosefalus

Hidrosefalus merupakan penumpukan cairan pada ventrikel atau rongga otak yang umum ditemukan pada bayi dan anak-anak.

Karena adanya kelebihan cairan, maka ukuran ventrikel dan tekanan di dalam otak bisa meningkat.

Kondisi tersebut bisa diatasi dengan melakukan operasi otak kraniotomi.

5. Stroke

Kerusakan, pendarahan, serta pembekakan otak dapat disebabkan oleh stroke.

Beberapa dokter mungkin akan menyarankan prosedur operasi otak kraniotomi sebagai solusi untuk kondisi tersebut.

6. Parkinson

Kondisi parkinson pada umumnya akan mengakibatkan gejala tremor, kaku otot, maupun gerakan tubuh yang terganggu.

Dalam hal ini, pengendalian dan penanganan aktivitas abnormal bisa dilakukan oleh dokter dengan menanam alat khusus di otak melalui tindakan kraniotomi.

7. Epilepsi

Epilepsi diakibatkan oleh gangguan dan kerusakan pada otak sehingga aktivitas listrik pada otak juga ikut terganggu.

Biasanya pasien harus menjalani perbaikan dan pengambilan sebagian otak dengan cara kraniotomi.

8. Tumor Otak

Terdapat beberapa jenis Tumor Otak yang membutuhkan prosedur kraniotomi sebagai proses penanganan. Hal ini bertujuan agar otak dapat kembali sehat dan berfungsi dengan optimal.

Risiko & Efek Samping Operasi Otak Kraniotomi

Setiap tindakan medis seperti pembedahan pada otak, prosedur kraniotomi juga memiliki risiko tersendiri.

Tidak semua pasien akan mendapatkan risiko yang sama, namun dalam sebagian besar kasus, seringkali ditemukan kondisi seperti berikut:

  • Pendarahan
  • Pembekuan darah
  • Infeksi
  • Pneumonia
  • Kejang
  • Pembengkakan otak
  • Kelemahan otot
  • Tekanan darah tidak stabil

Dalam beberapa kasus, prosedur operasi otak juga dapat menyebabkan komplikasi seperti sulit berbicara dan mengingat, gangguan kesimbangan tubuh, koma, hingga kelumpuhan.

Untuk mendapatkan penjelasan dan gambaran yang lebih baik tentang kraniotomi, Anda dapat berkonsultasi pada dokter secara langsung.

Dapatkan Operasi Otak Kraniotomi Terbaik di Indonesia

Indonesia Medical Tourism Board (IMTB) merupakan agensi medis yang akan membantu Anda mendapatkan pengalaman perawatan medis terbaik di Indonesia.

Medical Assistant kami akan membantu Anda mencari rumah sakit dengan operasi otak terbaik, menghitung estimasi biaya, hingga mengurus semua administrasi rumah sakit, sehingga Anda tidak perlu repot dan antri lama.

Jika Anda membutuhkan penjelasan lebih lanjut mengenai perawatan yang tepat untuk kebutuhan Anda, silakan hubungi kami untuk konsultasi lebih lanjut.

Menu